Riba dikenal sejak dimana manusia mengenal mata uang, dimana dijelaskan dalam Ensiklopedi tentang Riba, bahwasaanya manusia mengenal mata uang sejak zama Nabi Adam Alaihissalam. Apakah benar sejak zaman tersebut? tentu benar karena kata dasar Riba itu sendiri adalah bertambah. Sehingga memang sudah menjadi tabiat manusia yang memiliki keinginan untuk menambah khususnya harta yang dimiliki. Namun kita perlu memahami apa itu Riba yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.

Sejak masa peradaban orang Yahudi Riba mulai dikembangakan dengan mengubah ayat-ayat Allah Subhanahu wa ta'ala sesuai dengan keinginan mereka. Orang-orang  yahudi yang mengembangkan Riba di masa Nabi Musa alaihissalam. Dengan melakukan propaganda-propaganda kepada penduduk sekitar mulai dari Thaif dan Madinah (yastrib), sehingga kehidupan para penduduk menjadi ketergantungan terhadap riba. Dimana terdapat aturan bahwasannya jika orang yahudi meminjam uang ke bank milik yahudi, maka tidak ada bunga di dalamnya. Namun sebaliknya, jika orang diluar yahudi memijam uang ke bank yahudi, maka akan dikenakan denda pinjaman.

Banyak ulama yang mendefinisikan tentang riba, salah satunya adalah Muhammad Asy Syirbiniy. Beliau mendefinisikan riba “Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya.” (Mughni Al-Muhtaj, 6: 309).

Salah satu cara memahami riba adalah dengan memahami kaedah umum dari riba itu sendiri, dimana terdapat hadits yang mengatakan “Setiap utang piutang yang ditarik manfaat di dalamnya, maka itu adalah riba.” (Diriwayatkan oleh Al-Harits bin Abi Usamah. Sanadnya terputus sebagaiaman disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. Begitu pula hadits ini punya penguat dari Fadholah bin ‘Ubaid dikeluarkan oleh Al-Baihaqi).

Meskipun hadits di atas lemah, namun isi kandungan yang terdapat didalamnya benar karena dikuatkan oleh kesepakata para ulama. Ibnul Mundzir Rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa jika seseorang yang meminjamkan utang dengan mempersyaratkan 10% dari utangan sebagai hadiah atau tambahan, lalu ia meminjamkannya dengan mengambil tambahan tersebut, maka itu adalah riba.” (Al-Ijma’, hal. 99, dinukil dari Minhah Al-‘Allam, 6: 276).

Jika tambahan yang diberikan oleh peminjam saat mengembalikan utang nya, tidaklah masalah dalam hal ini. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Raafi’ bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminjam dari seseorang unta yang masih kecil. Lalu ada unta zakat yang diajukan sebagai ganti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menyuruh Abu Raafi’ untuk mengganti unta muda yang tadi dipinjam. Abu Raafi’ menjawab, “Tidak ada unta sebagai gantian kecuali unta yang terbaik (yang umurnya lebih baik).” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjawab, “Berikan saja unta terbaik tersebut padanya. Ingatlah sebaik-baik orang adalah yang baik dalam melunasi utangnya.” (HR. Bukhari, no. 2392 dan Muslim, no. 1600).

===